Artikel Tari Muangsangkal


ARTIKEL
TARI MUANGSANGKAL





 Di susun oleh:


Nama    : Akhdiyat Fuadi Saputra
Nim       : 130511100089
                             Kelas     : Madurese Studies-B
                            
                   Narasumber               :  1. Bapak Asnawi
                                 2. Bapak Sujani
                                                              3. Bapak Ahmad
                            
              Tanggal wawancara       : 05-06 Desember 2013








1.Pendahuluan


Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari banyak pulau dan memiliki berbagai macam suku bangsa, bahasa, adat istiadat atau yang sering kita sebut kebudayaan. Keanekaragaman budaya yang terdapat di Indonesia merupakan suatu bukti bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya.Seperti yang telah kita ketahui, perkembangan budaya Indonesia selalu dalam kondisi yang naik dan turun. Pada awalnya, Indonesia sangat banyak mempunyai peninggalan buadaya dari nenek moyang kita terdahulu, hal seperti itulah yang harus di banggakan oleh penduduk Indonesia sendiri, tetapi belakangan ini budaya Indonesia mengalami masa terhadap sosialisasi budaya bangsa sehingga penduduk kini telah banyak melupakan apa itu budaya Indonesia.
Semakin majunya arus globalisasi rasa cinta terhadap budaya semakin berkuarang, dan ini sangat berdampak tidak baik bagi masyarakat asli Indonesia, masyarakat sekarang sudah berubah menjadi masyarakat modern. Hal yang menyebabkan kebudayaan bangsa Indonesia banyak yang di ambil oleh pihak lain. Malihat beberapa fakta yang ada bahwa budaya Indonesia banyak yang telah di klaim oleh pihak lain terasa sangat miris. Karna masyarakat Indonesia kurang memperhatikan bagian dari budaya Indonesia.
Tidak bisa kita pungkiri bahwa kebudayaan daerah merupakan faktor utama berdirinya kebudayaan yang lebih global, yang biasa kita sebut dengan kebudayaan nasional. Maka atas dasar itulah segala bentuk kebudayaan daerah akan sangat berpengaruh terhadap budaya nasional, begitu pula sebaliknya kebudayaan nasional yang bersumber dari kebudayaan daerah, akan sangat berpebgaruh pula terhadap kebudayaan daerah atau kebudayaan lokal.Kebudayaan merupakan suatau kekayaan yang sangat benilai karena selain merupakan ciri khas dari suatu daerah juga mejadi lambang dari kepribadian suatu bangsa atau daerah. Karena kebudayaan merupakan kekayaan serta ciri khas suatu daerah, maka menjaga, memelihara dan melestarikan budaya merupakan kewajiban dari setiap individu, dengan kata lain kebudayaan merupakan kekayaan yang harus dijaga dan dilestarikan oleh setiap suku bangsa.
Karena menjaga, memelihara dan melestarikan kebubayaan merupakan kewajiban setiap individu, maka dalam realisasinya saya mencoba menyusun sebuah artikel yang di dalamnya berisi tentang kebudayaan di pulau Madura. Madura adalah pulau yang lumayan besar, tetapi sumber-sumber asal-usul daerah, budaya, di pulau ini belum begitu banyak yang jelas. Maka dari hal tersebut saya ingin mencoba untuk menlusuri salah satu asal-usul budaya dan beberapa dan karakteristik yang ada di daerah Sumenep yaitu tentang Muangsangkal dengan melakukan wawancara pada salah satu pemain alat musik yang mengiringi tari Muangsangkal.




2. Pembahasan


Tari Muangsangkal
(Tarian Khas Daerah Sumenep, Madura)

Menurut masyarakat setempat di daerah Sumenep, Muangsangkal secara bahasa apabila di artikan ke dalam bahasa Indonesia adalah tolak balak atau membuang malapetaka. Tari Muangsangkal biasa di gunakan pada saat penyambutan tamu seperti presiden atau pejabat-pejabat tinggi Negara dan juga biasa digunakan dalam acara-acara resepsi pernikahan karna di takutkan apabila datang suatu musibah dari luar dan dengan di adakan tarian Muangsangkal musibah tersebut Insya Alloh bisa pergi dari tamu atau dari acara yang sedang di selenggarakan.

Meskipun demikian masyarakat tetap percaya bahwa yang mendatangkan dan menghilangkan musibah atau malapetaka adalah Alloh SWT. Tarian ini di didirikan oleh Taufiqur Rohman pada tahun 1972. Menurut masyarakat setempat bahwa mungkin pak Taufiqur Rohman waktu itu mendapatkan hidayah dari Alloh sehingga dapat mendirikan sebuah tarian yang dinamakan Muangsangkal.

Tarian Muangsangkal terdiri dari penari perempuan semua dan tidak ada penari laki-laki. Selain itu penari tarian Muangsangkal juga berjumlah ganjil yaitu tiga, lima, tujuh, dan seterusnya. Bisa terdiri dari tiga penari, lima penari, dan tujuh penari, tergantung dari jumlah tamu yang ada, apabila jumlah tamunya banyak maka penarinya juga banyak. Selain itu penari juga harus suci karna menurut masyarakat Sumenep apabila ada salah satu penari Muangsangkal ada yang sedang haid atau menstruasi maka tarian tersebut tidak bisa membuang bahaya atau musibah yang akan datang.

Sesuai dengan perkembangan zaman sekarang tari Muangsangkal sudah tidak lagi hanya di gunakan untuk menyambut tamu atau acara-acara tertentu tetapi sekarang tarian Muangsangkal ini sudah sering di perlombakan baik antar daerah ataupun di dalam daerah Sumenep itu sendiri. Karna seringnya di adakan tarian Muangsangkal bisa menjaga kelestarian budaya agar tidak di tiru ataupun di akui sebagai milik dari kebudayaan Negara lain.

Tarian Muangsangkal adalah salah satu tarian yang berasal dari Sumenep yang sampai sekarang masih di lestarikan dan dibanggakan oleh warga Sumenep walaupun hanya sebagian yang bisa menari tari Muangsangkal karena tarian Muangsangkal selain memperlihatkan keindahan gerakan sang penari dan busana adat Madura, tetapi juga di percaya bisa di gunakan sebagai pembuang malapetaka atau musibah yang akan menimpa para tamu dengan cara menaburkan campuran beras kuning dan bunga-bunga.

Persyaratan dalam pengadaan tari Muangsangkal terutama harus ada beras kuning (beras yang di kasih kunyit), bunga cempaka putih, bunga cempaka kuning, bunga melati, bunga mawar, dan dupa. Langkah-langkah yang selanjutnya yaitu dengan merontokan semua bunga kemudian di campur dengan beras kuning. Selain itu wadah untuk tempat campuran bunga dan beras kuning yaitu dengan wadah yang seperti mangkok tetapi dalam bahasa Madura biasa disebut dengan cemong yang berwarna kuning keemasan. Untuk ukuran beras dan bunga masyarakat biasa menyesuaikan dengan wadah.

Menurut masyarakat setempat, dupa adalah salah satu syarat yang harus di penuhi, karena dupa dimanapun selalu dikaitkan dengan hal-hal yang mistis atau ghaib. Apabila syarat ini tidak terpenuhi menurut masyarakat bahwa tarian Muangsangkal tidak bisa membuang balak atau musibah. Dalam tarian Muangsangkal ada yang menggunakan panggung dan tidak menggunakan panggung. Apabila dalam acara penyambutan tamu biasa tidak menggunakan panggung. Tetapi apabila acara-acara seperti resepsi pengantin dan acara-acara yang lain biasa menggunakan panggung dan menari di atas panggung. Setelah semua persyaratan dan peralatan terpenuhi serta penari telah siap maka tarianpun siap untuk di tampilkan.

Adapun tatacara dalam melakukan tari Moangsagkal misalnya pada saat penyambutan tamu. Kemudian ada salah seorang yang menaruh atau membawa dupa. Setelah semua siap maka tarianpun keluar dengan posisi awal membentuk satu baris ke belakang dan masing-masing penari membawa wadah yang keemasan yang berisi beras kuning dan bunga dan di iringi ayak kempul (menurut masyarakat). Setelah itu para penari berbaris membentuk segitiga dan tetapi ada juga yang membentuk segi empat, tetapi yang satu berada di tengah apabila jumlah penarinya ada lima. Penari kemudian menari didepan para tamu sampai beberapa menit. Setelah penari menari hingga beberapa menit, kemudian penari sambil menari memutari para tamu sambil membawa wadah yang berwarna keemasan di tangan kiri dan menaburkan bunga yang di campur beras kuning ke arah para tamu dengan tangan kanan.

Setelah penari memutari para tamu sampai beberapa kali kemudian mereka berhenti dan menari berbaris membentuk segitiga (apabila terdiri dari tiga penari, lima penari, atau tujuh penari maka penari membentuk susunan segitiga atau bisa juga membentuk segi empat yang paling belakang hanya satu penari atau bisa juga satu penari berada ditengah). Para penari berbaris di depan para tamu dan menaruh wadah di tangan kiri yang berwarna keemasan di bawahnya. Kemudian penari menari di depan para tamu sambil di iringi musik dibelakangnya.

Setelah beberapa menit kemudian penari mengambil kembali wadah yang berisi beras kuning dan bunga-bunga dan menaburkan kembali kepada para tamu sampai beras dan bunga tersisa sedikit, ketika beras dan bunga dalam wadah tinggal sedikit maka Semua campuran antara beras kuning dan bunga-bunga ditaburkan Semua kearah tamu sekaligus. Dengan tujuan agar musibah atau balak yang akan menimpa para tamu bisa pergi dan para tamu bisa terhindar dari musibah. Terdapat beberapa musik yang mengiringi tarian Muangsngkal dan alat musik tersebut sering dikaitkan dengan adanya Walisongo, karna setiap alat musik itu terdapat yang mengandung beberapa arti yang berkaitan dengan agama Islam.


Alat-alat musik yang mengiringi tarian Muangsang adalah musik kerawitan diantara lain: bonang besar dan bonang kecil, slentem, gambang, gendil kecil, gendang di tengah, siter, suling, dan pekeng. Masing-masing alat musik tersebut ada yang memiliki arti dan makna tersendiri. Karena sebagian besar orang-orang di Madura beragama Islam maka arti dan makna dari alat-alat musik juga berhubungan dengan nilai-nilai dan ajaran agama Islam. Diantaranya adalah alat musik yang bernama bonang besar dan bonang kecil yang berada di bagian kanan dan kiri.

Bonang besar dan boning kecil adalah alat musik yang cara memainkannya adalah dengan di pukul. Alat musik ini terdiri dari dua puluh yaitu bonang kecil sepuluh dan bonang besar sepuluh memiliki arti sifat wajib Alloh yaitu: wujud (ada), qidam (terdahulu), baqo (kekal), mukholafatuhu lilhawadisi (berbeda dengan mahluk-Nya), qiyamuhu binafsihi(berdiri sendiri), wahdaniyat (Esa), qudrot (kuasa), irodat (berkehendak), ilmu (mengetahui), hayat (hidup), sama’ (mendengar), basar (melihat), kalam (berbicara), kaunuhu qoodiron (keadaan-Nya yang berkuasa) , kaunuhu muriidan (keeadaan-Nya yang berkehendak menentukan) , kaunuhu ‘aliman (keadaan-Nya yang mengetahui), kaunuhu hayyan (keadaan-Nya yang hidup), kaunuhu sami’an (keadaan-Nya yang mendengar), kaunuhu bashiiron (keadaan-Nya yang melihat) , dan kaunuhu mutakalliman (keadaan-Nya yang berbicara).

Alat musik yang di bagian tengah yaitu orang Madura sering menyebut dengan kata slentem dan di belakangnya bonang ada alat musik yang bernama gendir besar dan gendir kecil,di bagian tengah terdapat alat musik gendang,terdapat suling, terdapat alat musik yang beranama saron, dan didepan terdapat alat musik yang bernama gambang, serta terdapat alat musik yang bernama siter. Alat musik siter cara memainkan alat musiknya adalah dengan cara dipetik, alat musik ini cara memainkanya hampir sama dengan gitar tetapi alat musik ini di taruh di bawah.

Jika alat musik gitar di petik dengan satu tangan, dan tangan yang Satunya memegang senar di depan, maka kalau siter dipetik dengan kedua tangan. Di samping gendang terdapat pekeng ada lima. Sama dengan jumlah rukun Islam yang lima yaitu menggambarkan perintah untuk umat islam: syahadat, sholat, zakat, puasa, dan haji bagi yang mampu. Kemudian di sebelahnya ada saron yang intinya enam, memeliki arti rukun iman. Karena sama jumlahnya enam yang terdiri dari: iman kepada Alloh, iman kepada Malaikat, Iman kepada kitab Alloh, iman kepada Rosululloh, iman kepada hari kiamat, iman kepada Qodho dan Qodhar.

Sesuai dengan yang saya jelaskan di atas bahwa alat-alat musik yang di gunakan dalam pertunjukan tari Muangsangkal memiliki arti-arti atau maksud-maksud yang terdapat dalam ajaran agama Islam. Sesuai dengan masyarakat di Sumenep dan di daerah Madura sekitarnya bahwa masayrakat mayoritas beragama Islam. Karna latar belakang pada zaman dahulu terdapat seseorang yang menyebarkan ajaran agama Islam di pulau Madura dan itupun berawal dari walisongo dari pulau jawa. Nama dari seorang penyebar agama Islam di pulau Madura adalah syech Kholil.

Dalam tarian Muangsankal membutuhkan beberapa perlengkapan seperti: tata busana, asesoris, tata rias, tata panggung bila di perlukan dan masih banyak lagi. Semua hal yang perlu untuk di persiapkan dalam jangka waktu yang tentunya tidak sedikit, karena seperti halnya ketika ada sebuah acara yang memebutuhkan tari Muangsangkal. Maka di perlukan latihan tarian yang cukup lama karena tidak semua orang bisa menari tarian Muangsangkal kecuali memang orang-arang yang sudah terlatih.  Perlengkapan busana dan asesoris yang biasa di gunakan dalam sebuah pertunjukan tarian Muangsangkal seperti selendang, bunga-bungaan kantil yang di susun panjang kemudian di kaitkan di bagian seperti berbentuk mahkota yang terdapat di kepala.

Setiap asesoris dan perlengkapan memiliki kegunaan dan daya tarik tersendiri, seperti halnya menggunakan selendang memilki fungsi sebagai pembantu penari dalam memperlihatkan gerakan tarian pada bagian tangan agar memperindah atau supaya lebih menarik ketika dalam memperlihatkan gemulainya gerakan tangan. Kegunaan asesoris dan pernak-pernik yang di pakai oleh para penari adalah hanyalah untuk menghiasi dan membuat para penari menjadi lebih kelihat indah dan enak untuk di lihat. Pakain yang di kenakan oleh para penari juga harus menarik, tetapi tidak keluar dari tema dalam sebuah acara yang diselengggarakan. Buusana yang sering digunakan dalam beberapa penampilan baisanya adalah pakain khas adat yang berasal dari Sumenep dan Madura. Yaitu busana ala penganti legga dengan dodot khas Sumenep.

Tujuan dari memakai pakain adat dari sumenep atau Madura selain untuk memperlihatkan pakain adat adalah supaya para penari bisa kelihatan lebih menarik. “Penari Muangsangkal dipilih perempuan karena gerakan perempuan lebih gemulai dan lebih indah daripada laki-laki. Tidak berpasangan dengan laki-laki karena menjaga kesucian tarian ini, dalam keadaan bergerak antara penari laki-laki dan penari perempuan bisa bersentuhan, bila laki-laki dan perempuan bukan muhrim bersentuhan, maka menodai sucinya tarian ini. Sama halnya mengapa penari tidak boleh dalam keadaan haid. Jumlah penari harus ganjil karna Tuhan itu Maha Esa.”

Tarian khas Keraton Sumenep ini diciptakan untuk menyambut tamu agung. Sampai saat ini Keraton Sumenep dan pemerintah daerah kabupaten Sumenep terus melestarikan tari ini dengan mementaskannya ketika tamu penting datang ke daerah mereka. Tamu penting yang dimaksud yaitu seperti presiden, dan beberapa pejabat tinggi Negara. Namun tetapi tidak semua pejabat tinggi Negara disambut dengan tari Muangsangkal karena hanya apabila pemerintah kabupaten Sumenep berkeinginan memberi izin mengeluarkan tarian Muangsangkal maka para tamu akan disambut dengan tarian ini.

Namun terkadang juga para tamulah yang meminta untuk tidak diadakannya tarian Muangsangkal ketika mereka datang ke daerah Sumenep atau daerah Madura yang lainnya. Seperti halnya ketika presiden datang ke daerah kabupaten Sumenep dan presiden atau para pengaman dari presiden tidak mengizinkan untuk mengeluarkan tarian Muangsangkal kaena mungkin demi keamanan presiden.



3. Penutup

Berdasarkan pembahasan diatas budaya adalah hal yang sangat berharga yang dimiliki oleh suatu Negara atau suatu daerah walau bagaimanapun bentuk suatu budaya tersebut. Penjelasan diatas menerangkan betapa indahnya dan beragamnya suatu tarian yang diiringi oleh beberapa alat musik yang khas dari daerah Sumenep.
Karena setiap manusia lahir ke duania ini membawa dua ketentuan yaitu mendapatkan keselamatan dan mendapatkan mala petaka, kita sebagai manusia diwajibkan untuk berusaha menjaga diri dari mala metaka itu dengan keyakinan masing-masing, seperti tari Muangsangkal ini di percaya oleh seniman Sumenep termasuk saya bisa membuang malapetaka yang ada pada diri seseorang.
Selain itu alat-alat musik yang berasal dari Sumenep tidak hanya menciptakan sebagai alat musik tetapi juga terdapat beberapa alat musik yang memiliki makna atau arti yang berhubungan dengan salah satu agama yang terdapat di Madura.Alat-alat musik tersebut di antar lain yaitu alat musik bonang kecil sepuluh dan bonang besar sepuluh memiliki arti sifat wajib Alloh, alat musik pekeng ada lima sama dengan jumlah rukun islam yang lima yaitu menggambarkan perintah untuk umat islam, alat musik saron yang intinya enam memeliki arti rukun iman. Selain alat-alat musik yang memiliki arti terdapat juga perbedaan tarian dari daerah Sumenep dengan daerah lain, yaitu dari segi jumlah, makna yang tersirat dan beberapa perbedaan yang terdapat pada tarian Muangsangkal.
Sesuai dengan penjelasan di atas bahwa alat-alat musik yang di gunakan dalam pertunjukan tari Muangsangkal memiliki arti-arti atau maksud-maksud yang terdapat dalam ajaran agama Islam. Sesuai dengan masyarakat di Sumenep dan di daerah Madura sekitarnya bahwa masayrakat mayoritas beragama Islam. Karna latar belakang pada zaman dahulu terdapat seseorang yang menyebarkan ajaran agama Islam di pulau Madura dan itupun berawal dari walisongo dari pulau jawa. Nama dari seorang penyebar agama Islam di pulau Madura adalah syech Kholil.
Dari segi jumlah tarian Muangsangkal diharuskan terdiri dari jumlah penari dengan jumlah ganjil yaitu tiga, lima, dan tujuh. Kemudian dari segi makna yang tersirat pada tarian Muangsangkal menurut masyarakat Sumenep yaitu digunakan untuk membuang balak atau malapetaka yang akan datang ketika pada saat penyambutan tamu atau acara-acara tertentu. Perbedaan yang selanjutnya yang membedakan dengan tarian lain adalah semua penari harus perempuan dan tidak boleh dalam keadaan haid atau menstruasi. Terakhir yang tentunya membuat berbeda dengan tarian dari daerah lain adalah baju adat khas dari Sumenep. Yaitu Busana ala penganti legga dengan dodot khas Sumenep.
Keunikan tarian Muangsankal tersebutlah yang membuat berbeda dengan tarian dari daerah lain. Dari gerakan tarian, jumlah penari, busana, penari yang harus perempuan, tata cara dalam sebuah tarian dan beberapa jenis alat musik. Setiap daerah pasti memiliki suatu kesenian budaya yang berasal dari daerah itu sendiri apalagi di Negara Indonesia ini terkenal dengan bermacam-macam buadaya dan tradisi. Sudah selayaknya kita sebagai penduduk warga Indonesia harus melestarikan budaya baik dengan mempelajari budaya tersebut ataupun dengan mendokumentasikan budaya tersebut.




Referensi

Asnawi. 2013. Narasumber 1. Penduduk setempat. Marang, Larangan Barma, Batu putih, Sumenep.
Sujani. 2013. Narasumber 2. Penduduk setempat. Marang, Larangan Barma, Batu putih, Sumenep.
Ahmad.  2013. Narasumber 3. Pemain musik. Marang, Larangan Barma, Batu putih, Sumenep.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini